Kamis, 31 Desember 2009

KEPONGAHAN STRUKTURAL!!!!

Kemarin Rifka Annisa Yogyakarta menyelenggarakan sarasehan tentang pengintegrasian UUPKDRT dalam sistem Peradilan Agama. Saya dan salah seorang hakim tinggi PTA Yogya menjadi pembicara. Kami menjadi pembicara karena menjadi tim perumus dari rangkaian semiloka, dan sarasehan ini untuk mensosialisasikan hasil-hasil itu dan tentunya diharapkan ada sumbang saran dari peserta sarasehan yang terdiri dari hakim, BP4 , KUA serta beberapa LSM yang menangani masalah keluarga.

Saya mencoba memaparkan hasil-hasil semiloka, yang targetnya akan menjadi rekomendasi ke stake holder.Sehingga kedepannya diharapkan kasus KDRT akan menurun, tidak seperti sekarang walaupun UU telah ada tapi kasus KDRT dari tahun ke tahun menunjukkkan trend yang meningkat.

Beberapa peserta memberikan umpan balik yang positif. Artinya ada beberapa hal yang selama ini luput dari pemikiran tim, yang rasanya memang layak untuk diakomodir. Misalnya "hukuman" yang diberikan bukan hanya ganti rugi, tetapi "ta'jir" yang berefek membuat jera. Atau juga ada yang kurang sepakat bahwa UUPKDRT sebagai pemicu perceraian sebagaimana hasil FGD.

Sebagai pemateri, hal itu saya terima sebagai kewajaran, bahwa pro dan kontra adalah hal yang wajar. Dan tentunya semua itu akan menjadi catatan yang akan saya sampaikan dalam diskusi dengan tim perumus.

Sayangnyadi penghujung diskusi, ada tanggapan dari seorang "hakim senior" yang disampaikan dengan bahasa yang kurang santun dan sikap yang layak dicemooh. Kesan yang muncul adalah kepongahan dan kesombongan serta keangkuhan.

Alih-alih mendapat simpati, tetapi justru mendapat cibiran. Karena dia menganggap bahwa yang saya sampaikan di luar etika hakim. Bahwa seharusnya ini disampaikan dalam forum hakim saja. Padahal yang saya sampaikan adalah fakta, bahwa masih banyak hakim yang belum mengetahui UUPKDRT, sehingga tim memasukkan ini sebagai rekomendasi untuk memaksimalkan sosialisasi UUPKDRT pada hakim. Dan ini semua hasil dari semiloka dan UUPKDRT. Dan sarasehan ini betul-betul forum ilmiah dan sangat diharapkan imbal balik. Jika sang hakim senior ini menganggap bahwa ini tidak benar, seharusnya dia mengajukan dalih sebaliknya, bahwa sudah banyak hakim yang tahu tentang UUPKDRT dengan bukti bla...bla...bla...

Dan jika ini bukan forum untuk itu, apa alasannya??? Ini forum ilmiah, bukan forum di pinggir jalan yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Hasil semiloka, dan prosesing semiloka mencatat apa yang saya sampaikan.

Ternyata kemarahan belum mereda, selesai sarasehan sang hakim senior yang sangat terhormat menghampiri saya yang lagi berdiskusi dengan teman LSM Mitra keluarga. Sang hakim yang mulia masih menguntap, dan ini membuat saya terkejut. KETIDAKPANTASAN DAN KETIDAKSOPANAN telah dilakukan oleh seorang hakim senior terhadap hakim junior!!!!

Pada posisi sarasehan, hubungan kita bukan antara senior dan junior. Tak pantas apa yang anda lakukan itu pada saya. Okelah saya sebagai hakim junior, tapi ini bukan sarana pembinaan. Ada forum lain yang bisa anda gunakan untuk membina saya, bukan disini tempatnya bung!!! itu yang ada dalam hati saya.
Saat itu saya hanya menjawab bahwa apa yang saya sampaikan adalah hasil dari semiloka dan FGD, bukan hasil rekayasa saya. Dan ini forum ilmiah, buka forum eblek-eblek untuk menyampaikan gagasan.

Sepeninggal hakim senior tadi, peserta yang tersisa nyaris mencemooh perilaku yang tak semestinya. Ada yang komentar, waah....dari pagi saat pendaftaran peserta sudah error, sombong. Ada yang komentar juga bahwa ini kan diskusi, apa hakim senior tadi tidak mengetahui tatakrama diskusi. Belum lagi dari hakim sendiri yang mengatakan bahwa hakim senior ini tidak tahu diri, dikiranya ini forum pembinaan sehingga bersikap demikian. Walaupun dalam hati saya walaupun pembinaan tak selayaknya sikap demikian itu dimunculkan. Dan masih banyak lagi komentar-komentar lainnya, yang terus terang memuat saya malu mempunyai hakim senior yang demikian.

Untuk meredam rasa amarah saya (saya juga boleh marah kan???) saya kemudian mengingat kembali ketika kami sama-sama mengikuti pelatihan mediator. Dimana ada beberapa teman hakim yang bertanya pada tuada udilag tentang mediasi, yang kebetulan pendapat tuada udilag berbeda dengan pemateri yang kebetulan dari peradilan umum. Bagi hakim senior kita ini, pertanyaan tersebut tak semestinya ditanyakan karena seakan-akan mengangkat derajat pemateri dan menjatuhkan tuada udilag.

Saya yang mendengar "grendengan"hakim senior hanya berkata dalam hati. "Lho.... apa yang salah dari penanya. Dia bertanya karena dia belum faham, Dia ingin tak ada dualisme dalam penyelesaian masalah, satu versi tuada udilag, yang satu versi pemateri". Ohya yang jadi persoalan waktu itu adalah, tuada udilag menyatakan bahwa walaupun verstek dan ghoib, tetap wajib mediasi. Sementara pemateri menyatakan bahwa mediasi hanya bisa dilaksanakan jika pihak-pihak hadir dalam persidangan.


Dari kasus di atas, saya hanya menganggap bahwa rasa pembelaan korps dari hakim senior ini sangat berlebihan. Tidak mengetahui bahwa tak semestinya loyalitas kekorp"an" ini berlaku dalam tiap lini. Sampai dalam diskusi terbataspun muncul. Dalam forum ilmiah dan terbatas, tak ada ketabuan-ketabuan, yang ada fakta dan solusi.

Belum sampai disitu kemarahan senior saya, di wall face book saya juga masih muncul dan saya juga menjawab apa adanya. Tapi rasanya say juga boleh marah dong.... (hehehe...) maka saya pun membuat status yang menggambarkan kemarahan saya. Kemudian beberapa teman muncul memberi komentar, ada yang pro dan kontra. Tapi yang banyak sih mencemooh sikap arogansi itu.

Di sisi lain, hakim senior tadi membuat status di wall, yang kurang lebih isinya kontra dengan apa yang saya sampaikan. Eeeee............ sayangnya tak ada yang komentari selain hakim senior lain yang mengikuti sarasehan itu. Inilah hidup jika dalam kepongahan struktural.

Aaah....untuk menghargai teman-teman yang berkomentar, saya ingin memasukkan dalam ocehan ini sebagai kenangan. Dan sebagai hakim junior, kemarahan saya hanya bisa seperti ini. Semoga hakim senior-hakim senior lain bisa menyelami perasaan hakim junior sehingga kepongahan dan kesombongan struktural tak terjadi lagi.

Ini beberapa "dialog" dan komentar dari teman-teman

Lily Ahmad Hari gene masih ada hakim yang tak berkenan untuk dikritik, namanya apa ya???? Hakim orba?? hakim jadul?? hakim jaim??? atau hakim apa????

Kemarin jam 20:30 · ·
Fitri Hasan
Fitri Hasan
ada yg kurang bu...hakim galak suka marahin terdakwa, pengacara, ato orang lain dimuka persidangan.... haha gmn tuhh menurut ibu... Bagusnya masuk dijaman apa dy...
Kemarin jam 20:38 ·
Fachruddin Rifai Sh MHum
Fachruddin Rifai Sh MHum
kalo ngritiknya didepan umum dan membuat malu pribadinya, siapapun juga pasti nggak mau dibuat malu toh...
Kemarin jam 20:43 ·
Prabawani Nurhadi
Prabawani Nurhadi
Hakim ketinggalan jaman kui nyah...ini aku otw pulang jkt...alhamdulillah td sdh ktm Esty dirmh duka
Kemarin jam 20:44 ·
Diah Rofika
Diah Rofika
Hakim yang gak mau ada saingannya mbak, hakim yanga gak siap untuk dihakimi. Nah biasanya yang begini ini bisa menghalalkan segala cara agar luput dari vonis hakim. Harusnya sudah mulai dibiasakan hakim makan hakim, (jeruk makan jeruk he...he....) kritik itukan bagian dari pembelajaran, kalau ada orang mengkritik cara kerja hakim berarti dia mesti introspeksi diri, sudah benarkan dia menjalankan fungsinya sebagai hakim?
Kemarin jam 21:04 ·
Cecep Suhaeli
Cecep Suhaeli
Ya Hakim yang tidak hakiim he he he.... wah bahaya kalau masih ada hakim seperti itu. apa kata dunia??
Kemarin jam 21:15 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
@Fitri: hahaha...... berarti sesama hakim gak boleh saling galak ya???
@Bang Fakhruddin: Ini bukan kritik terhadap pribadi seseorang. Sebenarnya ini hasil FGD dari hakim dan beberapa LSM di Jkt, yang saya sampaikan dengan teman-teman hakim di Yk. Pisssss deh!!! wkwkwkwkw...
@Anon: Hehehe...... istilah baru ya???? Wahhhh cerita di fb angkatan dong pertemuanmu dengan Esthy, pasti banyak teman yang menantinya.
Kemarin jam 21:40 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
@Diah: Heeeeemmmmmmm..... aku hanya tarik nafas membaca komentarmu.
@Kang Cecep: Hehe...kayak iklan aja. Doakan aku tidak seperti itu ya kang..... Apalagi doa orang baru pulang haji, konon makbul. Amieeennnnnnn
Kemarin jam 21:43 ·
Retno Oshin Dhamayanti
Retno Oshin Dhamayanti
Wah, emang skrg tuh banyak hakim yg mau benernya sendiri say..., gak doyan kritik, merasa dirinya yg paling bener dan paling hebat.. Mrk gak sadar kalau dg sikap mrk itu sama aj membohongi hati mrk sendiri. Celakalah bagi hakim yg bersikap spt itu...
Kemarin jam 21:46 ·
Cheeputh JaKal
Cheeputh JaKal
kalee bliau2 ini mrasa drnya MALAIKAT (pencabut nyawa) ya lik??yg ga pny slh...hehe..klo malaikat arogan gpp kan lik?? gni hari??? msi ada hakim yg brpikiran kolot n feodal??? kacian INDONESIAkuuuuuuuuuuuuu..hik..hik..hik...
(kpn indonesia jd pinter??org2nya aja sok keminter??)
Kemarin jam 22:00 ·
Abu Maula
Abu Maula
waktu kuliah dulu kita kenal ada dosen killer dan tidak. biasanya, dosen killer itu yang sudah berumur, merasa paling tahu dan paling benar, sehingga tidak terima kalau disanggah apalagi dikritik. jangan jangan hakim yang tidak mau dikritik itu hakim yang sudah berumur (atau kalau tidak, merasa tua dan ingin dituakan hehehe...). dia gak nyadar kali... Lihat Selengkapnya ya kalau manusia (TIDAK TERKEDCUALI HAKIM) itu LEMAH dan BODOH... karena itu KRITIK (sebagai ejawantah dari wa tawashau bi al-haqq wa tawashau bi al-shabr) itu diperlukan. S A D A R L A H ....
Kemarin jam 22:18 ·
Diah Sulastri Dewi
Diah Sulastri Dewi
ssssttttt jangan marah 2 bu...... mediator handal hrs tersenyum selalu.....^_^
Kemarin jam 22:24 ·
Mantep Miharso
Mantep Miharso
menurut teori politik, kata teman saya : dalam suatu kekuasaan, Orang yang sudah berkuasa itu biasanya semakin kepengin lebih berkuasa. Teori ini kelihatanya benar deh... kalau gak salah tu... dalam sejarahnya si raja Fi'aun kan dah jadi raja ya..... eh... pengin jadi tuhan. Akhirnya si laknatulloh fir'aun itu gimana ?????
Ketika aku mencoba ... Lihat Selengkapnyajabatanku untuk latihan berkuasa, malah aku sendiri yang rugi. Masyarakat malah gak hormat padaku. beneeer nich pengalamanku begitu...
Sabaaar ya diajeng...... Semoga Alloh membukakan hidayah kepada kita semua.
Kemarin jam 22:33 ·
Yuniyanti Chuzaifah
Yuniyanti Chuzaifah
Post colonial syndrome. Tradisi elitisme hakim, dokter, jaksa,tentara dll, adalah warisan kolonial untuk menjaga kekuasaan dan memagar batas strata. Jaman sudah berubah, masyarakat terdidik melihat semua itu hanya ragam profesi bukan tingkatan profesi. Jd begitu dikritik seakan Singgasananya runtuh.
Kemarin jam 22:51 ·
Bang Ohiem
Bang Ohiem
ada 4 macam manusia dalam kamus saya.
1.orang yang tahu kalau dirinya tidak tahu
2.orang yang tahu kalau dirinya tahu
3.orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu
4.orang yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu
Hari ini jam 0:45 ·
Imas Aisah
Imas Aisah
ly,untuk menjadi lebih bijaksana seorang pemimpin hrs mau mendengarkan kritik sepedas apapun!
tak peduli apapun profesinya.ok say..
Hari ini jam 2:39 ·
Zen M. Fauzie
Zen M. Fauzie
Saya langsung to point aja deh, kalo di era reformasi masih ada oknum hakim yg alergi terhadap kritikan.....itu namanya HAKIM SAMBER GLEDEK. Itu jenis hakim bermental kerdill yang suka mencederai keadilan di baik kebesaran jubahnya. Kelaut aja deh lo.... !
Hari ini jam 7:05 ·
Gunung Sri Hartono
Gunung Sri Hartono
Lebih parah lagi kalau terjadi komplikasi antara jabatan, besar kepala dan merasa dirinya selalu benar. Otokritik itu memang gampang diucapkan semua orang tapi hanya orang-orang yang berjiwa besar (dan nggak sakit jiwa) yang bisa mengambil hikmahnya..
Hari ini jam 8:18 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
@Oshin: Hiiiii....mengerikan say. Moga-moga kita tidak seperti itu ya say....
@Oni:Aku juga ikut menangis sedih karena sampe detik ini masih banyak yang seperti itu.
@kak Abu: yuuuk....kita sama-sama menyadarkan hakim-hakim yang seperti itu.
Hari ini jam 14:23 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
Bu Dewi: senyum selalu mengembang, walau senyum sinis karena hare gene arogansi struktural masih menempel di kalangan kita. Naudzubillah.....
Hari ini jam 14:24 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
@kang Mantep: hahahah....jadi hakim-hakim seperti ini senilai dengan Fir'au??? ampyyyuuuuun deh. wkwkwkwkw....pisss... kami gak membutuhkan firaun-firaun baru di muka bumi ini.
@Yuni: Betul say..... Aku mencoba merobah paradigma itu. Bahwa hakim tak mesti berwajah dingin, dengan kepala yang tak menunduk jika bertemu orang. Bahwa kewibawaan dan kesucian hakim ada dalam putusan yang dihasilkan, bukan di interaksi personal, apalagi interaksi struktural. Tks pencerahanmu say...
Hari ini jam 14:28 ·
Lily Ahmad
Lily Ahmad
@Bang Ohiem: Lalu yang ini masuk yang mana ya????
@Imas: Susyaaah say.... paradigma anti kritik masih merajalela. Yuuuuk kita berangus. hehehehe..
@Bang Zein: hahahaha.... susahnya kalau hakim sambar gledek, jika musim panas, gak ada gledek yang nyambar. wkwkwkwkw........
@mas Hanno: betuuuuuullllllllllllllllllllllllllllllll.
Hari ini jam 14:32 ·
Sholeh Gisymar
Sholeh Gisymar
Saat ini aku sdg mengedit bk peradilan sesat, ternyata bgt banyak kasus org tdk salah hrs dihukum. Dmn nurani pengadil? Hakim itu minutes biasa, bisa salah dan lupa, jd ga perlu merasa benar sndr. Kalo sll merasa benar, dia kehilangan sikap bijaknya, jk sdh tdk bijak bkn hakim namanya
Hari ini jam 18:37 ·
Mantep Miharso
Mantep Miharso
emang di dalam bahasa arab ada haakim ( panjang ha-nya) dan ada hakiiim ( panjang ki-nya) artinye pasti beda.
10 jam yang lalu ·
Noor Mahfudz
Noor Mahfudz
Hukum itu tegas tp lentur dan fleksìbel. Hakim yg kepala batu akan mengkoyak aturan2 hukum. Semoga dibukakan summun,bukmunnya sehingga mereka bìsa yarji`uun.
sekitar sejam yang lalu ·

Antonius Hartono >>Hakim sebuah asma ALLAH....lalu di INDONESIA predikat itu pun dipakai utk tempat mencari keadilan, namun sayang banyak para hakim lupa makna dan lupa hakekat utk apa dia menyandang gelar itu....sdh menjadi rahasia umum jika hakim tempat mempermainkan hukum (tempat salah) walau tidak semuanya demikian, masih ada hakim...2 yg benar, maka di Indonesia ada Hakim Tinggi dan Hakim Agung utk mengoreksi sesuatu yg salah, sekalipun di tangan MA saja pututusan terkadang masih tidak sesuai rasa keadilan, maka diperlukan saling memperbaiki lewat kritik dan saran, kalau hakim tidak mau dikoreksi, suruh saja jadi DIKTATOR....(yg sdh pasti kebenarannya subyektif)

Lihat SelengkapnyaHari ini jam 8:44 · · · Lihat Antar-Dinding
Lily Ahmad
Lily Ahmad
Betul-betul kata yang mencerahkan. Tks kakanda... Doakan saya dalam menjalankan tugas.
Hari ini jam 14:52 ·
Kurdianto Sh
Kurdianto Sh
yang tidak mau dikritik itu berarti tidak punya nurani, ketika seseorang apapun stratanya, apaun prfesinya tidak mau dikritik sebetulnya dia telah kehilang hakekat kemanusiaanya. ha ha ha sok filsuf
9 jam yang lalu ·

Andi Rais Bener Ly..sdh bukan jamannya lagi hakim anti kritik,namanya jg manusia..tdk lepas dari salah dan khilaf "erare humanum est" manusia bukan saja tdk lepas dari salah dan khilaf,justru sumber kedua hal tsb,20 tahun sy berpraktek sbg advokat..kalau sy temui hakim arogan,sy lawan dg argumen yg konstruktif,elegan dan tdk seg...an" sy gebrak meja,karena sejak kecil sy diajarkan kalau salah wajib minta maaf,namun kalau benar"harus dilawan" itu sy ingat" terus,bukankah junjungan kita Rasulullah jg mengatakan "katakan" sekalipun itu pahit demi Kebenaran.kemarin sy sampaikan pd mas Busyro Muqoddas dikampus Ly..bahwa ada beberapa hakim (oknum) berperilaku tdk terpuji...namun sebaliknya scra Fair..sy juga sampaikan ada juga hakim berperilaku terpuji. Sekarang ini sdh era yg lain, jadi kalau ada hakim anti dikririt..amat sangat disayangkan...sudah kuno..sdh enggak jaman..he...he...

Lihat SelengkapnyaKemarin jam 23:53 · · · Lihat Antar-Dinding
Muna Agusta
Muna Agusta
Betul mbk Lily karena Hakim jg manusia biasa bukan malaikat, seharusnya kalau ada yg mau mengkritik itu malah bagus, krn bs interopeksi untuk lbh meningkatkan kinerja spy lbh baik lagi. Sdh tdk jamannya lg org tdk mau dikritik,
Hari ini jam 10:19 ·

Aroma Elmina Martha Tanya ya Bu hakim,kode etik hakim sekarang yang digunakan oleh majelis kehormatan hakim yang diikuti versi mana ya,bikinan KY,atau dari IKAHI atau dari MA atau darimana?setahuku kalau parameter akademisi apa saja dan siapa saja boleh dikritik,entah kalau ada hakim yang menggunakan versi kode etik sendiri,hehehe

Hari ini jam 6:30 · · · Lihat Antar-Dinding
Lily Ahmad
Lily Ahmad
Hahahahaha.... Ini masalahnya. Ternyata dalam diskusi ilmiah, bahkan untuk mencari solusi pemecahanpun kok lupa melepas kesombongan. hehehehehehe..
Hari ini jam 14:35 ·
Cheeputh JaKal
Cheeputh JaKal
kesombongan utk sebgian org digunakan sbg "jubah kebesaran"..yg aku kuatirkan jgn2 ni org sdh kna reye sindrom kronis..
5 jam yang lalu ·

Sabtu, 05 Desember 2009

Menumbuhkan sensiifitas anti korupsi.




Tanpa disengaja, mingu lalu saat bersama anak-anak main ke Malioboro mall, ada acara sosialisasi anti korupsi oleh KPK.
Seperti biasanya, kadang anak-anak acuh dengan acara yang sifatnya "promosi",tapi kali ini tidak, karena selain games yang enteng-enteng berisi, juga ada gifts yang membuat mereka tambah bersemangat.

Rasanya memang harus diancungi jempol, upaya KPK ini. Walau saya yakin anggaran yang dikeluarkan bukan dalam jumlah sedikit. Hanya sayangnya saya melihat ini tidak tepat strategi dan tepat sasaran.

Kalau di mall. komunikasi yang terjalin rasanya biasa-biasa saja. Anak-anak mengisi kuis, atau bermain games yang disediakansetelah itu diberi gifts. Selesai!!! Tanpa tahu, apakah games yang diberikan itu bisa sampai dalam mind anak atau tidak.

Teringat beberapa waktu yang lalu, ada sebuah produksi yag mengajarkan anak untuk mencuci tangan dengan benar. Anak-anak digiring untuk mencuci tangan di wastafel, diajarkan memakai sabun, proses tangan dibersihkan sampai mengeringkan tangan. Ini nyata dan skill anak tentang mencuci tangan jelas dan nyata. Insya Allah setelah itu, anak-anak akan mempraktekkan dengan benar.

Kembali dengan misi KPK dengan sosialisasi di mall. Tanpa mengecilkan upaya ini, tapi sepertinya hasil yang didapat sangat minim. Gak akan nyantol di benak anak, apa itu korupsi, bagaimana mensikapi korupsi, dll. Tentu juga gak perlu diajarkan korupsi kelas kakap, tapi korupsi-korupsi kelas anak SD. wow...jika sikap mental itu terbina.... Insya Allah 20 tahun ke depan, saat anak-anak kita memimpin negara ini, tak ada yang korupsi!! (amien...)

Lepas dari itu semua, apresiasi saya terhadap langkah sosialisasi yang dibuat KPK, tentu dengan harapan ke depannya akan dibuat lebih tepat sasaran. Seperti kata orang pintar, untuk menggolkan sesuatu, bukan hanya dengan tenaga yang kuat, tetapi yang lebih penting lagi tepat sasaran. Bravo KPK.