Tampilkan postingan dengan label REKREASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REKREASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2009

JIKA HAKIM LEPAS TOGA




Begini nih jika hakim melepas toga, "nyebur" di pantai kuta dengan gaya apa adanya. Lepas dari persoalan kantor, lepas dari persoalan keluarga. Tapi bukan berarti lupa anak lupa istri, tapi sejenak melepas kepenatan dan rutinitas keseharian. Lepas dari toga yang kadang membuat panas, lepas dari perkara yang memusingkan, dan lepas dari keluarga yang kadang menyembulkan masalah.

Dan bagi hakim yang paling sering dihubungi istri atau suami, akan diberikan "cendramata" ketidakpercayaan pasangan, hehe.... Untuk kali ini jatuh ke teman Noer Rahman, karena menurut panitia, ny Noer Rahman yang paling sering "cari info" tentang suaminya.
Khusus kali ini, sepertinya kita mengantarkan pak Mukhsin dan bu Ulfa bulan madu ke Bali, karena pak Mukhsin sebagai hakim tinggi juga "mengawasi" kami-kami termasuk bu Ulfa sebagai istrinya di Bali.

Selasa, 27 Januari 2009

LIBUR IMLEK DI PARANGTRITIS


Namanya main di pantai, pasti membuat anak-anak senang. Termasuk libur imlek (Senin 26-2-09) kemarin. Anak-anak bersama sepupu mereka dari Jakarta, Azka dan Asya main sepuasnya di pantai Parangtritis.
Kak Abil tidak ikut karena ada mengerjakan tugas bersama teman-teman dan les drum.

Mama dan Papa berpose di bawah terik matahari

Asya yang kepanasan
berjalan di pinggir pantai

Makan kelapa muda di ujung pantai
Kelelahan minta digendong
Main air permainan wajib

Minggu, 11 Januari 2009

KEMACETAN DI YOGYA SAAT LIBURAN



"Uuuuuuh................!!!! Begini nih Yogya kalau sudah musim liburan!!! Macet dengan kendaraan luar daerah. Udah gitu mobil orang Jakarta senangnya klakson melulu, tan...tin...., bikin sebel!!!!" ini omelan anak-anak jika musim liburan dan kita jalan-jalan menelusuri jalan-jalan di Yogya. Omelan yang dihasilkan dari pengalaman selama ini mereka hadapi.

Memang betul, jika ada libur long week end saja, Yogya kena imbasnya. Jalan-jalan di Yogya terasa padat, utamanya jalan-jalan yang memasuki obyek wisata.
Jalan Mangkubumi sebagai salah satu akses menuju jalan Malioboro macet mulai di depan KR. Alhasil kalau memang tidak punya niat ke Malioboro, atau jika dari arah samsat mau menuju ugm, ebih baik menghindari masuk lewat mangkubumi. Kita yang tak punya niat masuk Malioboro, hanya terjebak dengan arus angkutan ke Malioboro.

Bukan hanya Malioboro yang macet. Jalan ke gembiraloka juga padat, dan jalan-jalan di alun-alun utara maupun selatan.Jalan Mayor Suryotomo yang sehari-harinya sudah tersendat, akan lebih padat dan merayap jika memasuki musim liburan. Kita lebih baik menghindari jalan-jalan yang menuju tempat-tempat wisata, daripada waktu tempuh kita lebih lama. Lebih baik kita agak melingkar, tetapi lebih lancar, daripada kita memaksakan diri untuk mencari jalan terdekat tapi akhirnya terjebak kemacetan.

Ini bukan "omelan", karena kami yakin dibalik "derita" karena dimana-mana kena macet, tapi terselip juga kegembiraan bagi para pedagang yang dagangannya laris manis diborong turis-turis lokal. Selamat Datang di Yogya....dibalik kemacetan ada tersembul senyuman...

Jumat, 26 Desember 2008

GOA SELARONG


Libur natal ini, kami merencanakan mau ke gua tabuan di Pacitan. Pasti seru dan mengasyikkan. Apalagi selama ini anak-anak belum pernah piknik ke gua, termasuk kua jatijajar yang tiap ke Jakarta,pasti dilewati.

Tapi ada komentar dek Caysa yang menggelitik:"Ngapain kita jauh-jauh ke Pacitan, kalau gua Selarong yag dekat rumah belum kita datangi". Betul juga ya.... selama ini karena merasa gua selarong letakknya dekat rumah, kemudian menganggap enteng. Kapan ingin, bisa segera kesana.

Kebetulan libur natal ini belum sempat ke gua tabuan, akhirnya diputuskan ke goa Selarong aja dulu. Dan jika waktu memungkinkan, dalam liburan kali ini kita semua pikinik ke goa Tabuan dan langsung ke Tawamangu.Lagi-lagi ini rencana.

Setelah agak siang, juga setelah papa dan mama "memuaskan" tidur pada hari libur, kita semua minus kakak berangat ke goa Selarong. Kakak gak ikut karena menonton pertandingan futsal.Karena tak terlalu jauh dari rumah, sebentar saja kami sudah sampai di pelataran parkir gua Selarong. Dengan ogkos masuk yang sangat murah (Rp 1.000/ orang sudah termasuk asuransi), plus parkir mobil Rp 1.500.- Kami memulai penelusuran menuju goa Selarong.

Menapaki jalan menuju goa Selarong, kami masih melewati rumah-rumah penduduk, yang umumnya memproduksi kerajinan. Ada yang memproduksi patung asmat dan ada juga yang memproduksi souvenir kipas batik. Yang jelas pangsa pasar pengrajin tersebut bukan untuk pengunjung goa Selarong. Hanya kebetulan saja mereka tinggal di kaki goa Selarong.

Sebelum mendekati anak tangga pertama, di sebelah kirinya ada pejual-penjual buah. Papa langsung menerangkan kalau dahulunya wilayah Selarong terkenal dengan pohon-pohon jambu biji. Maka umumnya penjual menjajakan buah yang tumbuh dekat goa Selarong. Dan yang menarik, semua penjual adalah nenek-nenek, yang berumur sekatar 60-65 tshun.

Menaiki anak tangga yang cukup curam dan sambil menengok ke atas, "waah...betapa curam dn tingginya nih", pikir mama. Tapi melihat mbak Aya dan adek dengan santainya berlari ke atas, ya.....ayo juga!!! Walau perlahan-lahan, yag jelas harus sampai ke atas.

Sesampai di atas, adek langsung nanya: "Mana goanya?" Mama juga clelilukan nyari. Mencari "lobang di kaki gunung" yang bernama selarong. Papa yag nyusul kemudian menunjuk lobang yang lebih kurang kedalaman 2 meter dan lebar 3 meter serta tinggi 1,5 meter."O......ini guanya", apalagi di atasnya tertulis "GOA PUTERI".

Ini semua jauh dari angan-angan mbak Aya dan adek tentang sebuah goa. Mereka membayangkan yang namanya goa itu adalah lubang di kaki gunung, yang memanjang, gelap dan bisa tembus ke arah yang lain. Angan-angan yang telah terbentuk dengan membaca seri petualang di koran atau menonton di televisi.

Dengan rasa sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan yang dibayangkan, mbak Aya dan dik Caysa naik lagi menuju ke atas. Rasa penasaran menapaki tangga-tangga yang dibuat pengelola, Indah dan terawat. Adek yang sampai duluan di atas langsung turun. "Ma, gak ada apa-apanya".

Betul juga, jika yang divari adalah goa, di atas memang tak ada apa-apanya. Di peta lokasi tadi tertera kalau yang paling atas adalah gardu pandang. Yang mama lihat hanyalah banyaknya pasangan remaja (boleh dikata anak-anak) yang berpacaran. Melihat dari penampilan mereka, mereka bukan berasal dari kota, mereka berasal dari sekitar Bantul saja. Yang teretik dalam pikiran mama: "Ini nih....yang menyebabkan banyaknya angka kasus menikah di bawah usia di Bantul".

Karena baru terasa sesaat dan belum puas, istilah mama "Retribusi seribu rupiah kok minta puas dan bagus", adek mencoba kembali ke pelataran goa. Di sisi baratnya ternyata ada goa kakung. Bentuknya lebih kecil dari goa puteri. Tak cukup untuk berdiri orang dewasa. Di situ banyak sekali terdapat bekas-bekas sesajen berupa kembang-kembang. Mbak Aya langsung nyeletuk "Waah....ini namanya musyrik ya!!"

Kalau mama terbayang ini tempat istirahatnya pangeran Diponegoro. Lha...kalau guanya hanya untuk cukup satu orang, dimana tempat pengikut yang lain istirahat? Ada sedikit tetesan air dari atas, dan dari gua ini juga kita bisa melihat air terjun yang tidak terlalu besar. Tapi untuk kesana, rasanya malas juga. Kami hanya menikmati pemandangan yang betul-betul masih asri.Plus foto-foto berlatar pemandangan itu.

"Udah yuk....turun, lapar nih. Kita cari makan yang paling enak di bawah"canda papa. Mana ada tempat makan yang paling enak, tadi kita berjalan yang jualan makan hanyalah berupa indomie.Sesampai di bawah, memang tak mungkin kami makan di warung yang ada. Justru hati tertarik dengan beberapa penjual buah. Bukan jualannya, tetapi penjualnya yang sudah tua-tua. "Ah.....kasihan juga, berbagi sedikit kebahagiaan deh". Makanya papa kemudian meminta air dalam kemasan, dan mama kemudian membeli buah sirsat

Ini tentu bagi para "konsultan keuangan" bukan sikap yang positif, karena membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan. Ah....tapi terserah deh, hati nurani kita mengalahkan hal-hal yang bersifat teoritis tadi. Apalagi ketika kita membeli dengan rasa kasihan, harga yang kita bayarkan melebihi harga kepatutan.

Karena perut yang semakin lapar, kami bergegas ke mobil. Berharap bisa segera pergi dan mencari makan. Sesampai di pelataran parkir, sejenak memandang peta lokasi Goa selarong. Setelah dicermati, ternyata peta itu sangat tidak akomodatif. Tidak menunjukkan jalan, serta keberadaan kita sekarang. "Mbak Aya, ini jadi bahan tulisan ya?". Dan langsung diiyakan. Kamipun meninggalkan goa Selarong dengan kesan yang biasa-biasa saja.
(Foto-foto selengkapnya di: www.keluargahudiyanto.multiply.com)

Sabtu, 06 Desember 2008

REHAT DI HARI JUMAT



Seminggu berkutat di kantor, dengan seabrek kegiatan. Mulai yang sidang sebagai rutinitas, musyawarah majelis, mengonsep putusan sebagai bagian dari sidang. Belum lagi tugas mediasi yang nota benenye menambah beban kerja hakim.

Rasanya harus ada masa rehat. Masa dimana kita bisa mengendorkan ketegangan dari rutinitas itu. Maka dipilihlah lapangan tenis sebagai salah satu alternatifnya. Maka di tiap Jumat pagi, kami ke lapangan tenis untuk berolahraga.

Panas....so pasti, maklum out door. Segar.... ya!! karena bisa bebas berespresi. Mau menang mau kalah soal nanti. Yang penting enjoy...!! Apalagi kadang kami kedatangan tamu dari PA lain, tentu ini menambah tali silaturrahmi, dan meriah maen tenisnya.

Cukup dengan hidangan ala ruang teduh, sudah buat segar. Minggu depannya kita dengan semangat yang baru, karena badan dan pikiran yang sehat yag di dapat dari lapangan tenis.

Senin, 20 Oktober 2008

Naik Kuda Mini





Di alun-alun selatan Yogyakarta, jika sore hari berubah menjadi area permainan, "lumayan" banyak permainan-permainan yang tersedia. Ada atraksi gajah, seperda mini, naik kuda, naik mobil-mobilan, andong wisata. Dan
semuanya bertarif murah meriah, berkisar Rp 3.000.- sampai Rp 15.000.-




























Untuk naik kuda, yang tersedia kuda kecil. Jadi orang tua tidak terlalu kuatir jika anak-anak usia balita naik kusa, karena selain kudanya kecil, juga ada pengawalnya. Lagipula jarak tempuh hanya sekitar 100 meter. Lumayaaaannn....selain murah, yang pasti
anak senang dan ada pegalaman berkuda.

Sabtu, 11 Oktober 2008

MAIN PASIR




Jika kita bermain di pantai selatan, rasanya sangat beresiko jika sampai mandi panta, maklum, ombaknya yang tinggi dan ganas, bisa menyapu kita sampai ke tengah lautan. Hiiiiii ngeri banget!!! Maka cukuplah kita menikmati indahnya pantai dengan main pasir, lumayan.....sangat menyenangkan.