Rabu, 19 Januari 2011

“SAYA POKOKNYA INGIN CERAI” (UNGKAPAN-UNGKAPAN KEINGINAN UNTUK BERCERAI)


Kata orang, jika mau menikah atau masih dalam masa pacaran, semua keluar kata-kata yang manis. Mulai yang berbau puitis,rayuan hingga seakan-akan bahasa gombal. Bahkan banyak orang yang menyatakan bahwa kreatifitas muncul pada saat hati berbunga-bunga.
Banyak puisi cinta dan lagu yang muncul saat hati bersemi. Banyak puisi yang lahir dari hati yang berbunga . Kita yang mendengarnya juga kadang terbuai dengan puisi dan lagu cinta tersebut, hanyut dalam untaian syair dan lagu. Cobalah dengar lagu Ruth Sahanaya “Kaulah Segalanya”dari judulnya saja kita sudah bisa memahami betapa kekasih itu sangat berarti. Salah satu bait lirik lagunya:
“Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkinku melupakan mu
Tiada lagi yang ku harap
Hanya kau seorang”
Wow…. Kita akan hanyut dan terbuai. Tapi kira-kira apa gerangan yang terjadi jika kemudian cinta itu berbalik arah. Kebencian dan kegeraman muncul dalam kata-kata. Lagu-lagu tentang rasa sakit hati itu juga ada, tapi kita tak usah menuangkannya dalam tulisan ini. Karena saya ingin membagi kebencian, kemarahan itu dalam bentuk lain, yaitu kalimat atau kata-kata yang muncul ketika perceraian itu sudah di depan mata dan sudah dalam proses perceraian;
Dalam setiap persidangan perceraian, tentu ada interaksi hakim dengan para pihak. Dan dalam setiap persidangan, baik kedua suami istri hadir atau hanya salah satu pihak, majelis harus berupaya secara maksimal mendamaikan keduanya. Dalam proses upaya damai ini, banyak kata-kata yang muncul yang kesemuanya sebagai ekspresi keinginan untuk bercerai.
1. “Saya pokoknya ingin cerai”.
Kata ini paling sering muncul, seperti seorang anak yang meminta sesuatu tanpa alasan. “Pokoknya cerai”, suatu kata yang tegas dan jelas. Walau kadang hakim mencoba ingin meminta kejelasan tentang pokok masalahnya. Seakan-akan tak mendengar kalimat hakm, pihak Penggugat hanya menjawab kalimat di atas.

Alkisah, Suprapti telah menikah cukup lama dengan Suprapto hingga telah berbilang tahun dan telah melahirkan dua orang anak. Tetapi dalam perjalanan waktu Suprapto kemudian selingkuh, menyebabkan Suprapti sakit hati dan ingin bercerai. Yang menyebabkan Suprapti sakit hati, karena perselingkuhan Suprapto bukan hanya sekali ini aja, sudah berkali-kali, dan setiap ketahuan, selalu bertobat dan meminta untuk rukun kembali.

Untuk yang kali ini pun demikian, Suprapto mencoba untuk meluruhkan hati Suprapti, tapi Suprapti sudah tidak bergeming. Tetap ingin bercerai. Upaya damai yang dilakukan oleh hakim hanya dijawab oleh Suprapti: “Saya pokoknya ingin cerai”.

2. “Kami sepakat untuk bercerai”.
Ini biasanya muncul pada pasangan suami istri yang sudah meyakini bahwa perkawinan mereka sudah tidak mungkin sudah dirukunkan. Akhirnya perceraian merupakan pilihan bersama, dan perceraian satu-satunya jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.

Kisah lain, Suprapto dan Suprapti telah mengikrarkan perkawinan sejak 5 tahun yang lalu. Selama ini perkawinan mereka terlihat adem ayem, tak ada perselisihan dan pertengkaran yang sampai mencuat di permukaan.Tapi siapa sangka, jika ternyata ada api dalam sekam. Ketidakhadiran keturunan menyebabkan rumah tangga mereka menjadi hampa. Apalagi keterlibatan orang tua Suprapto yang selalu berkata terus terang bahwa mereka segera menginginkan keturunan, karena usia mereka sudah tua dan Suprapto adalah anak tunggal. Mereka menganggap bahwa yang kurang subur adalah Suprapti.

Hal ini yang membuat Suprapti sakit hati dan meminta suaminya untuk bercerai. Suprapto yang pada posisi dilematis,akhirnya mengabulkan keinginan Suprapti yang juga merupakan pilihan penyelesaian.

Bagi Suprapto dan Suprapti,siapapun yang mengajukan perceraian di pengadilan tidak menjadi masalah, karena prinsip Suprapto dan Suprapti perceraian merupakan pilihan bersama.

3. “Sekarang bukan istri saya, besok juga bukan istri saya”.
Jelas terbaca bahwa kalimat di atas adalah kata-kata yang keluar dari Suprapto sebagai seorang suami. Ungkapan yang muncul emosi yang sudah tidak tertahankan, amarah yang menginginkan segera adanya perceraian.

Ada beberapa orang suami, yang masih bisa menahan diri untuk berkata tanpa emosi untuk bercerai dengan istri. Tapi tidak sedikit pula yang tak mampu menahan diri, seakan-akan kalimat “Sekarang bukan istri saya, besok juga bukan istri saya” merupakan kalimat puncak dari keinginan untuk bercerai.

Suprapto memang belum lama menikah , masih seumur jagung untuk istilah orang. Tapi perbuatan Suprapti yang menghianati Suprapto membuat dia sakit hati yang tertandingi.Berulang kali Suprapto menasehati Suprapti untuk merubah sikap dan kembali membina rumah tangga. Tapi harapan dan nasehat Suprapto seakan-akan hanya angin lalu bagi Suprapti. Dia masih asyik dengan dunianya, dunia gemerlap, dunia dugem, dan dunia hingar bingar.

Apa mau dikata, beban Suprpato menanggung perilaku Suprapto sudah sampai ujung kesabaran. Walau sekarang Suprapti bersujud di hadapan Suprapto untuk rukun kembali, Suprapto sudah tak tergoyakan, prinsip Suprapto sekarang adalah: “Sekarang bukan istri saya, besok juga bukan istri saya”.

4. “Jika suamiku itu bagaikan baju sebagai pelindung, sekarang sudah tidak bisa saya pakai lagi’.
Banyak wanita yang menggantungkan harapan masa depannya pada suami. Dia bersandar pada suami, mengharapkan hidup harmonis dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Banyak wanita bisa menggapai apa-apa yang diharapkan dari perkawinannya,membina rumah tangga menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah dan rahmah, tapi tak sedikit pula harapan itu hanya harapan hampa, yang sama sekali tak berwujud. Jangankan sebagai pelindung, bahkan kadang justru sang istri mendapat kekerasan fisik dari sang suami.

Konon Suprapti mengenal Suprapto ketika msih mahasiswa. Mereka tak perlu berpacaran lama, karena orang tua Suprapti tidakmenginginkan mereka terlalu sering jalan bersama, hingga melewati batas dan melanggar norma agama. Mereka mengharapkan segera dilangsungkan perkawinan, apalagi Suprapto saat itu sudah bekerja dan mempunyai kehidupan yang mapan.

Berjalannya waktu, perilaku Suprapto berubah. Pertengkaran semakin sering terjadi, bahkan sering Suprapto melayangkan bogem mentah untuk Suprapti. Suprapti masih bertahan, demi anak-anak. Tapia apa mau dikata, pilihan yang terbaik bagi Suprapti adalah perceraian, karena kekerasan fisik semakin sering terjadi. Suprapto yang diharapkan member perlindungan, justru sekarang menjadi ancaman.

5. “Pokoknya saya sudah mantap bercerai”.
Pokoknya saya sudah mantap, kalimat yang keluar dari pasangan yang menginginkan perceraian. Kalimat yang keluaf, semantap hati yang menginginkan perpisahan. Kalimat ini biasanya muncul selesai hakim mengupayakan perdamaian.

Suprapti sudah lama ditinggal Suprapto, hingga sekarang sudah menginjak tahun ke 10. Keberadaan Suprapto pun sudah sulit dilacak. Suprapti telah berusaha mencari-cari keberadaan Suprapto, baik ke rumah orng tuanya, kerabat dan sahabatnya. Pada awalnya Suprapti masih berharap keberadaan Suprapto masih bisa dilacak. Apalagi Suprapti masih emnginginkan anak buah perkawinannya masih memiliki orang tua.

Sayangnya, keberadaan Suprapto semakin tak terdengar, Suprapti telah menjadi wanita yang mandiri, bisa menghidupi anak dengan kehidupan yang layak. Harapan agar Suprapto kembali sudah semakin tak mungkin, akhirnya Suprapti mantap untuk mengajukan gugatan cerai lewat pengadilan.

Masih banyak kalimat-kalimat yang muncul ketika ingin bercerai, semua bermuara pada satu kata yaitu ingin berpisah. Ini semua menjadi pelajaran bagi kita, dan semoga kalimat ini tidak akan pernah keluar dari lisan-lisan kita. Amien…
Salam,
Lily Ahmad
Bantul 19 Januari 2011

(Catatan: Tokoh Suprapto dan Suprapti adalah penokohan semata, bukan nama yang sbenarnya.)

Tidak ada komentar: