Minggu, 14 Juni 2009

HAKIM TAK BOLEH MARAH

Di beberapa meja kerja kami, terpampang nasehat mulia Umar Bin Khatab tentang hal-hal yang menjadi pedoman hakim, al: HAKIM TAK BOLEH MARAH. Sepertinya mudah dipahami, tapi sulit untuk dijalankan. Apalagi untuk hal-hal yang bagi kami sebenarnya sudah ceto welo-welo (istilah teman saya) bahwa orang ini mengungkapkan kebohongan, atau menutupi hal yang sebenarnya dengan jam terbang sebagai hakim, ini semua adalah mengada-ngada.

Menghadapi hal seperti ini, kadang dengan pendekatan yang menyentuh apalagi diingatkan dengan sumpah yang telah diucapkan,maka dengan serta merta akan merubah keterangannya dan akan berkata apa adanya. Dan ini bagi hakim selesai karena duduk perkaranya jelas dan logis.

Tapi saya pernah rasanya ingin marah (heeemmmmmm) ketika menghadapi 2 perkara dispensasi kawin, dimana sang bapak yang anak gadisnya akan menikah dini, dengan lantang dan mantapnya berujar: "Bu, saya akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi pada anak gadis saya jika menikah dini". Saya balik bertanya (dengan datar walau hati geram). "Apakah bapak akan bertanggung jawab jika di kemudian hari anak bapak ini kena kanker serviks?".

Yah....ternyata sangat tidak mudah menyadarkan masyarakat akan bahayanya pernikahan dini, khususnya kemungkinan terserang kanker serviks bagi wanita-wanita yang menikah di bawah 29 tahun. Belum lagi resiko-resiko sosial jika anak-anak ini menikah pada usia belum matang. Umumnya anak-anak ini mengaeungi rumah tangga selalu diwarnai perselisihan dan pertengkaran, yang ujung-ujungnya akan bermuara ke perceraian.

Umumnya para orang tua tidak memahami bahwa tugas mereka adalah untuk mencegah terjadinya pernikahan dini sebagaimana yang diamanatkan UU Perlindungan Anak, bukan akan turut bertanggung jawab jika anaknya menikah dini. Ini yang seharusnya para orang tua menyadari, sehingga tidak akan muncul pernyataan di atas.

DAlam minggy ini juga pernyataan yang sama saya dengar, dari seorang ibu yang profesinya ahli gigi. Karena kesibukannya sering meninggalkan rumah, sedangkan suami sudah meninggal, maka di rumah anak-anak berperilaku bebas, termasuk bebas melakukan hubungan seks. Hingga suatu hari anak perilaku ini digrebek masyarakat, sehingga masyarakat meminta anak-anak ini untuk segera dinikahkan.

Lagi-lagi ibu ini berkata seperti bapak di atas:Bu, saya akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi pada anak gadis saya jika menikah dini". Saya balik bertanyayang sama juga dan dengan datar walau hati geram juga. "Apakah ibu akan bertanggung jawab jika di kemudian hari anak bapak ini kena kanker serviks?". Ibu ini hanya terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Ibu ini merasa, dengan melibatkan calon menantunya dalam kiprah bisnisnya sebagai ahli pasang gigi, sudah merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dirinya sebagai orang tua. Tanpa sedikitpun pernah berpikir bahwa sesungguhnya anak gadisnya adalah anak di bawah umur, yang masih perlu bimbingan,masih perlu perawatan dirinya sebagaiorang tua. Tapi saat ini harus dipertaruhkan merawat suami yang nyaris masih sama-sama belia.

Bapak dan ibu ini mungkin tidak pernah berhitung, bahwa sekitar 25 tahun lagi, saat dirinya sudah tidak mampu apa-apa karena sudah berusia senja, saat rawan-rawannya usia wanita diserang kanker serviks, apa yang masih mereka perbuat buat anak-anak mereka. Tentu saya tidak ingin mereka terkena penyakit ini, tapi kalau pada akhirnya ini akan kena, apakah mereka masih ingat kegeraman saya, yang mungkin kemarin itu mereka merasakan kemarahan saya terhadap sikap mereka sebagai orang tua? Wallahu'alam.

Inilah beratnya tugas hakim, apalagi jika mengingat pesan khalifah Umar Bin Khatab, tentu takkan sehelaan nafaspun niat untuk marah. Tapi izinkan kami (khususnya saya) untuk sedikit geram (saja) menghadapi sikap-sikap masa bodo seperti kedua orang tua di atas. Bagi saya moga-moga kegeraman ini menyadarkan diri saya maupun orang tua yang lain untuk mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur, sebagaimana amanat UU Perlindungan Anak.

Jadi.....boleh kan hakim geram??? Ini bukan marah ya....khalifah Umar. Kami hanya ingin yang terbaik bagi anak cucu kami.

Tidak ada komentar: