Sabtu, 07 Februari 2009

PERJALANAN SELAMA 15 TAHUN (medio 30 Januari1994-30 Januari 2009)


Tak terasa hari ini, genap 15 tahun bahtera rumah tangga kami biduk bersama.
Perkawinan yang diniati dengan tekad hendak membangun rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah. Walau rasanya itu masih jauh dari harapan, tapi tentu kaki harus melangkah menuju cita.

Jauh dari harapan, jika barometernya adalah tak ada riak ombak sedikitpun, karena tak ada bahtera yang selamanya mulus,pasti ada riak yang mengolengkan bahtera itu.Kadang riak itu kecil, dan tak sedikit pula kami harus hadapi ombak yang sangat besar yang rasanya tak mampu untuk dilewati. Ternyata ombak itu tak selamanya besar dan menggulung bahtera.

Dan jika bisa lolos dari terjangan ombak, rasanya ada kepuasan dan kebahagiaan. Dengan harapan kelak tak ada lagi ombak yang dapat mengguncangkan bahtera ini.
Harapan serta optimisme itu harus ada, apalagi di bahtera ini telah diberi amanah oleh Allah dengan 3 hamba Nya. Sebuah Amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

3 Amanah ini menjadi sugesti yang kuat ketika ombak itu datang. "Kami harus menyelamatkan bahtera ini demi 3 amanah ini", ini adalah sugesti yang begitu mujarab. Jenis apapun badainya, seberapa besar pun ombak yang ada, sugesti ini begitu melekat. Dan meluruhkan segala keraguan atas ketidakmampuan untuk menghadapi badai.

Jangan tanya, siapa yang menjadi nakoda. Karena ini adalah bahtera dengan sinergi 2 nakoda. Semua punya andil, semua punya peran dan semua punya kebijakan, yang tentu kadang ada gesekan. Hanya toleransi yang besar yang bisa mengharmonikan 2 sinergi yang kadang berlawanan arus. Tapi itulah hidup, perbedaan akhirnya melahirkan kompromi.

Ketika kompromi itu ada, seakan tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Apalah kebiasaan suami atau istri yang kadang menjengkelkan, dibanding dengan perhatian yang diberikan begitu besar. Kejengkelan itu akhirnya menjadi dirubah menjadi "lelucon" sebagai trade merk suami-istri. "Bukan suamiku jika rajin mengganti lampu yang mati". Dan mungkin juga suamiku mengatakan "Bukan istriku kalau wanita pendiam". Yang ada di hadapan saya adalah suami yang sering acuh dengan dengan lampu yang mati, septic tank cucian piring yang lama gak dibetulkan, telpon yang rusak tapi gak pernah diganti, dan segudang hal yang menjadi "ciri khas" suami kita. Itulah suamiku, itulah yang ditakdirkan Allah pada kita.

Begitu juga suamiku, menghadapi kebawelan istrinya. Apa-apa maunya segera dilakukan, sesaat seketika. Kalau tidak, maka akan dihadiahi dengan muka cemberut dan lisan yang mengomel. Dan atas kebawelan ini, suamiku (mungkin) berkata juga: Inilah istriku, istri yang telah ditakdirkan Allah padaku. Dan kebawelannya merupakan ciri khas yang melekat padanya.

Menginjak 15 tahun perkawinan, jika sebuah perjalanan mengarungi samudera, sudah lepas cukup jauh dari dermaga, tapi masih sangat jauh ke pelabuhan tujuan. Selain ombak dan badai, juga tentu juga mengarungi samudera dengan tenang. Sehinga arung samudera bisa dinikmati dan disyukuri.

Suami yang serta merta mengurus anak, penuh kasih terhadap keluarga semua itu kenikmatan yang tak tertandingi. Ini semua menjadi perjalanan mengarungi samudera menjadi menyenangkan. Dan semakin menjadi beragam jika ditambah dengan kebiasaaan yang menjengkelkan tetapi telah dirubah menjadi "lelucon". Keragaman ini menjadikan kami tidak merasa telah 15 tahun mengarungi bahtera ini untuk mengarungi samudera yang tak berbatas.

Semoga kami akan sampai pada pelabuhan akhir dengan penuh kebahagiaan. Amien............

(Foto: Kado Ulang Tahun Perkawinan dari anak-anak)

---------------------------------------------------------------------------------
Salah satu yang menjadi "ciri khas" saya yang gak mau repot di dapur, maka untuk "syukuran" atas telah sampai 15 tahun perjalanan bahtera ini, kami harus "mengungsi" di luar. Terima kasih mas Hudi yang telah menerima semuanya apa adanya. Terima kasih papa.....


Tidak ada komentar: