Jumat, 26 Desember 2008

GOA SELARONG


Libur natal ini, kami merencanakan mau ke gua tabuan di Pacitan. Pasti seru dan mengasyikkan. Apalagi selama ini anak-anak belum pernah piknik ke gua, termasuk kua jatijajar yang tiap ke Jakarta,pasti dilewati.

Tapi ada komentar dek Caysa yang menggelitik:"Ngapain kita jauh-jauh ke Pacitan, kalau gua Selarong yag dekat rumah belum kita datangi". Betul juga ya.... selama ini karena merasa gua selarong letakknya dekat rumah, kemudian menganggap enteng. Kapan ingin, bisa segera kesana.

Kebetulan libur natal ini belum sempat ke gua tabuan, akhirnya diputuskan ke goa Selarong aja dulu. Dan jika waktu memungkinkan, dalam liburan kali ini kita semua pikinik ke goa Tabuan dan langsung ke Tawamangu.Lagi-lagi ini rencana.

Setelah agak siang, juga setelah papa dan mama "memuaskan" tidur pada hari libur, kita semua minus kakak berangat ke goa Selarong. Kakak gak ikut karena menonton pertandingan futsal.Karena tak terlalu jauh dari rumah, sebentar saja kami sudah sampai di pelataran parkir gua Selarong. Dengan ogkos masuk yang sangat murah (Rp 1.000/ orang sudah termasuk asuransi), plus parkir mobil Rp 1.500.- Kami memulai penelusuran menuju goa Selarong.

Menapaki jalan menuju goa Selarong, kami masih melewati rumah-rumah penduduk, yang umumnya memproduksi kerajinan. Ada yang memproduksi patung asmat dan ada juga yang memproduksi souvenir kipas batik. Yang jelas pangsa pasar pengrajin tersebut bukan untuk pengunjung goa Selarong. Hanya kebetulan saja mereka tinggal di kaki goa Selarong.

Sebelum mendekati anak tangga pertama, di sebelah kirinya ada pejual-penjual buah. Papa langsung menerangkan kalau dahulunya wilayah Selarong terkenal dengan pohon-pohon jambu biji. Maka umumnya penjual menjajakan buah yang tumbuh dekat goa Selarong. Dan yang menarik, semua penjual adalah nenek-nenek, yang berumur sekatar 60-65 tshun.

Menaiki anak tangga yang cukup curam dan sambil menengok ke atas, "waah...betapa curam dn tingginya nih", pikir mama. Tapi melihat mbak Aya dan adek dengan santainya berlari ke atas, ya.....ayo juga!!! Walau perlahan-lahan, yag jelas harus sampai ke atas.

Sesampai di atas, adek langsung nanya: "Mana goanya?" Mama juga clelilukan nyari. Mencari "lobang di kaki gunung" yang bernama selarong. Papa yag nyusul kemudian menunjuk lobang yang lebih kurang kedalaman 2 meter dan lebar 3 meter serta tinggi 1,5 meter."O......ini guanya", apalagi di atasnya tertulis "GOA PUTERI".

Ini semua jauh dari angan-angan mbak Aya dan adek tentang sebuah goa. Mereka membayangkan yang namanya goa itu adalah lubang di kaki gunung, yang memanjang, gelap dan bisa tembus ke arah yang lain. Angan-angan yang telah terbentuk dengan membaca seri petualang di koran atau menonton di televisi.

Dengan rasa sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan yang dibayangkan, mbak Aya dan dik Caysa naik lagi menuju ke atas. Rasa penasaran menapaki tangga-tangga yang dibuat pengelola, Indah dan terawat. Adek yang sampai duluan di atas langsung turun. "Ma, gak ada apa-apanya".

Betul juga, jika yang divari adalah goa, di atas memang tak ada apa-apanya. Di peta lokasi tadi tertera kalau yang paling atas adalah gardu pandang. Yang mama lihat hanyalah banyaknya pasangan remaja (boleh dikata anak-anak) yang berpacaran. Melihat dari penampilan mereka, mereka bukan berasal dari kota, mereka berasal dari sekitar Bantul saja. Yang teretik dalam pikiran mama: "Ini nih....yang menyebabkan banyaknya angka kasus menikah di bawah usia di Bantul".

Karena baru terasa sesaat dan belum puas, istilah mama "Retribusi seribu rupiah kok minta puas dan bagus", adek mencoba kembali ke pelataran goa. Di sisi baratnya ternyata ada goa kakung. Bentuknya lebih kecil dari goa puteri. Tak cukup untuk berdiri orang dewasa. Di situ banyak sekali terdapat bekas-bekas sesajen berupa kembang-kembang. Mbak Aya langsung nyeletuk "Waah....ini namanya musyrik ya!!"

Kalau mama terbayang ini tempat istirahatnya pangeran Diponegoro. Lha...kalau guanya hanya untuk cukup satu orang, dimana tempat pengikut yang lain istirahat? Ada sedikit tetesan air dari atas, dan dari gua ini juga kita bisa melihat air terjun yang tidak terlalu besar. Tapi untuk kesana, rasanya malas juga. Kami hanya menikmati pemandangan yang betul-betul masih asri.Plus foto-foto berlatar pemandangan itu.

"Udah yuk....turun, lapar nih. Kita cari makan yang paling enak di bawah"canda papa. Mana ada tempat makan yang paling enak, tadi kita berjalan yang jualan makan hanyalah berupa indomie.Sesampai di bawah, memang tak mungkin kami makan di warung yang ada. Justru hati tertarik dengan beberapa penjual buah. Bukan jualannya, tetapi penjualnya yang sudah tua-tua. "Ah.....kasihan juga, berbagi sedikit kebahagiaan deh". Makanya papa kemudian meminta air dalam kemasan, dan mama kemudian membeli buah sirsat

Ini tentu bagi para "konsultan keuangan" bukan sikap yang positif, karena membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan. Ah....tapi terserah deh, hati nurani kita mengalahkan hal-hal yang bersifat teoritis tadi. Apalagi ketika kita membeli dengan rasa kasihan, harga yang kita bayarkan melebihi harga kepatutan.

Karena perut yang semakin lapar, kami bergegas ke mobil. Berharap bisa segera pergi dan mencari makan. Sesampai di pelataran parkir, sejenak memandang peta lokasi Goa selarong. Setelah dicermati, ternyata peta itu sangat tidak akomodatif. Tidak menunjukkan jalan, serta keberadaan kita sekarang. "Mbak Aya, ini jadi bahan tulisan ya?". Dan langsung diiyakan. Kamipun meninggalkan goa Selarong dengan kesan yang biasa-biasa saja.
(Foto-foto selengkapnya di: www.keluargahudiyanto.multiply.com)

Tidak ada komentar: