Sabtu, 13 Desember 2008

PENGAKUAN YANG TERTUNDA



Aku hanya bisa menatap mata mas Eko di hadapanku. Aku kaget dengan pengakuannya. Pengakuan yang begitu jujur, pengakuan yang tertunda selama 25 tahun. ”Listia, aku menyayangimu, aku mencintaimu sejak mengenalmu 25 tahun silam” itu sepenggal kalimat yang terucap dari mulut mas Eko

Pengakuan yang membuat aku menundukkan wajah, sekan tak percaya. Karena yang duduk di hadapanku adalah seniorku saat aku duduk di bangku pesantren.

Untunglah kami baru selesai makan di Babaqaran resto lesehan di Yogyakarta. Jika tidak,tentu menu gurameh bakar yang sangat lezat serta tumis kangkung yang menggugah selera tak mampu kutelan.

Tanpa menunggu jawabanku, mas Eko terus mengungkapkan perasaannya bahwa sejak mengenalku, sebagai gadis kecil dengan wajah polos berambut panjang penuh keceriaan ketertarikan itu muncul.

Ya....saat itu aku masih gadis lugu, datang ke pesantren dengan kepolosan untuk menuntut ilmu. Aku tak menduga karena ternyata ada yang memperhatikanku.

”Listia, dirimu, wajahmu, keseharianmu masih terekam jelas di benakku” kalimat itu keluar lagi dari mulut mas Eko seakan untuk memperkuat kalimat-kalimat sebelumnya.

Aku mulai mengangkat kepala, mencoba memberanikan diri menatap wajahnya. Dan aku melihat pancaran kejujuran dari sinar matanya.

Sesaat kemudian, terbayang kembali saat perkenalan pertama kami di kampung temanku Ifah di kawasan Dieng Wonosobo. Ya....saat itu liburan pertengahan tahun. Karena liburnya tidak panjang, maka aku memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halamanku di Bone, tapi cukup berlibur di rumah sahabat akrabku.

Selain aku, ada juga kakak kelasku mbak Ajeng dan mbak Datik yang ikut berlibur bersama kami.

Perjalanan dari pesantren menuju rumah Ifah memang sangat melelahkan, berliku dan menanjak. Untungnya aku terbiasa melakukan perjalanan ke kampungku Bone, jalan menuju Bone lebih terjal, kiri jurang kanan gunung batu. Sehingga terasa berbeda jika menempuh perjalanan menuju Wonosobo yang sangat sejuk, karena kiri kanan jalan terhampar pemandangan hijau yang menyejukkan mata, membuat kekaguman tersendiri, sehingga sangat di sayangkan jika semua ini terlewatkan. Beda dengan Ifah, yang sudah terbiasa menempuh perjalanan ini, sehingga goyangan bus yang tidak begitu penuh ditambah kesejukkan udara, membuat Ifah sudah terbuai mimpi. Biarlah dia bermimpi dengan indah batinku. Aku ingin memimpikan tentang sesuatu, tentang keindahan alam Wonosobo. ”Ah.....andai kelak suatu waktu aku bisa meniti hari di desa yang penuh kedamaian ini” batinku yang tak jelas muncul dengan tiba-tiba.

Tanpa terasa kami telah sampai ke desa Ifah. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 500 m dari tepi jalan untuk sampai ke rumah Ifah. Sepanjang jalan dengan bwaaan baju yang cukup berat kami isi dengan percakapan dan rencana acara besok pagi. Yah....acara pertama adalah main di sungai kecil dan mampir ke rumah kak Eko Prihandoko. Ah...rasanya aku tak perlu membantah, karena sebagai tamu, aku pasrah saja. Toh pasti semuanya meneyenangkan.

Setiba dirumah Ifah, kami disambut ibu Ifah yang sangat ramah. Sejenak kami duduk di ruang tamunya yang bersih dan berhawa sejuk. Rumah model Jawa, yanbg penuh kehangatan, dengan kursi-kursi kayu jati. Kemudian kami disuhuhkan teh panas dengan singkong goreng. Serta merta mbak Ajeng dan mbak Datik meminum dan melahap singkong goreng yang hangat. Aku yang walau telah 2 tahun tinggalkan kampung halaman, masih sulit juga menikmati teh yang beraroma melati. Tapi demi menghormati ibu Ajeng yang telah bersusah payah menyuguhi kami, maka aku meminum juga teh melati tadi walau hanya sesruput.

Setelah meminum dan menyantap kami menuju kamar yang sudah dipersiapkan ibu Ifah, dan bersiap-siap untuk mandi dan makan malam. Saat makan malam kami banyak bercerita tentang keseharian kami selama di pondok dan hal-hal yang lucu serta yang menyedihkan yang kami alami. Setelah makan malam, karena bandan sangat letih, kami masuk kamar dan langsung tertidur pulas.

”Listia....” mas Eko memanggilku menyadarkanku akan lamunan saat pertama kali bertemu.

”Waktu kamu, Ifah,Ajeng,Datik datang ke rumahku, aku langsung tertarik padamu, dan sampai saat ini masih terlukis jelas dalam ingatanku. Kamu memakai baju berwarna ungu, rambut diikat kuncir kuda” lanjut mas eko.

”Ah.....jangan diucap lagi! Malu ah...” aku tersipu-sipu .

”Di rumah mas Eko kita makan rujak, yang buahnya diambil dari pohon di halaman ya mas....” aku mencoba menghilangkan kegelisahanku dengan menimpali kenangan-kenangan yang diungkap mas Eko.

” Setelah itu kita main di sungai dekat rumah Ifah dan jalan-jalan ke candi Dieng, wow...menyenangkan sekali” dengan mata berbinar-binar mas eko bercerita kejadian 25 tahun yang lalu, seakan-akan baru terjadi dalam hitungan hari.

Akihirnya kami saling cerita tentang liburan kami yang tanpa direncanakan menjadi liburan bersama dengan mas Eko.Sampai akhirnya kami harus kembali ke pesantren setelah masa liburan usai.

”Listia....”lagi-lagi mas Eko memanggilku dengan lembut.

”Setelah di pesantren, kita memang jarang bertemu, tapi aku selalu mengikuti setiap gerak langkahmu walau dari jauh. Aku sering sengaja menunggumu di depan asrama Ancient hanya berharap kamu lewat saat sholat Magrib. Tentu kamu tak melihatnya, karena kamu asyik bercengkrama dengan teman-temanmu. Tapi bagiku ini sudah cukup membahagiakan”

”Listia...kadang juga saya mengikuti teman yang hendak menemuimu, walau aku tau aku hanya akan dicuekin, bagiku ini tak apa-apa, karena berada di dekatmu dengan hati yang berdegub kencang menjadikan ini suport bagi hidupku.

”Listia.....”lagi-lagi mas Eko kali ini memanggilku dengan mata penuh sayu.

”Aku juga tau bahwa banyak teman-temanku yang menyukaimu, berharap cinta darimu. Tapi semuanya kau tolak. Ini membuatku semakin tak punya keberanian untuk menyatakan perasanku padamu, walau aku tau rasa cintaku begitu dalam padamu. Ah....Listia....!!” Terdengar kegeraman yang menyakitkan di kalimat akhir mas Eko.

Aku hanya diam,diam dan membisu. Aku tak mampu berkata-kata, hanyut dengan perasaan mas Eko yang begitu dalam.

”Setelah aku menyelesaikan pendidikan, aku masih selalu mengingatmu dan berharap kita masih saling bertemu. Silaturrahmi itu aku jalin dengan tetap berusaha menyuratimu dalam setiap kegiatanku. Ya....itu aku lakukan karena aku tak ingin kehilangan kamu, Listia” kata mas Eko menekankan kalimat terakhir.

”Mas, aku juga selalu rajin membalas surat yang mas Eko kirimkan kan?” jawabku untuk meredakan perasaan mas Eko.

Tanpa menanggapi apa yang baru saja aku ungkapkan, mas Eko tetap saja melanjutkan.

”Aku juga tetap rajin menyuratimu ketika kamu tamatkan pesantren dan melanjutkan kuliah di Yogyakarta, walau kemudian kita seakan-akan putus komunikasi. Tapi hatiku tetap selalu dan selalu mengingat kamu”

”Setiap datang ke Yogyakarta, di hatiku selalu berkata:”Listia.....kamu dimana???”, dan bagiku ini sudah cukup. Karena aku kemudian mengetahui kamu telah menikah dan telah dikaruniai anak, demikian juga aku”.

Aku hanya bisa diam dan diam....tak mampu lagi berkata apa-apa.

”Listia, kamu gak pernah ingin tau kabarku kan? Ini semua karena kamu tak pernah perduli dengan aku kan?” Tiba-tiba aku disentakkan pertanyaan yang tidak bisa kujawab serta merta.

Aku menatap wajah mas Eko, aku melihat tatapan yang tajam,seakan-akan menembus jantungku.Aku menghela nafas panjang.

”Mas, kenapa ini mas katakan? Seakan-akan aku dihakimi?Apa diamku menunjukkan aku tak mengingat dan mengenal mas Eko? Rasanya kok tidak. Andai ada orang yang menanyakan padaku, apakah aku mengenal Mas Eko, tentu akan sesegera mungkin aku jawab:YA”, tiba-tiba aku punya kekuatan untuk menjawab.

Aku melihat mas Eko kaget dengan pernyataanku barusan. Mungkin tak menyangka selama ini bahwa aku juga mengingatnya, tapi dalam hatiku aku berharap bahwa mas Eko tak membaca hatiku, yang juga merindukannya, mengingatnya, mengaguminya, ah....biarlah ini aku pendam sendiri, dan tak ada yang mengetahui kecuali hatiku dan Tuhan”

Samar-samar terdengar lagu Kaulah Segalanya dari Ruth Sahanaya:

Mungkin hanya Tuhan...

Yang tau segalanya...

Apa yang kuinginkan

Di saaat-saat ini

Kau Takkan percaya

Kau selalu di hati

Haruskah ku menangis

Tuk mengatakan yang sesungguhnya

Kaulah segalanya untukku

Kaulah curahan hati ini

Tak mungkin ku melupakanmu

Tiada lagi yang kuharap hanya kau seorang

Sejenak kami terdiam, sama-sam menikmati lagu yang sangat pas dengan suasana batin kami.

”Listia....” lagi-lagi mas Eko memcah keheningan.

”Aku ingin marah, tapi tak bisa, Aku ingin berontak, tapi tak kuasa, saat masih di pesantren dengan penuh perasaan aku menulis surat cinta untuk ungkapkan perasaanku. Mungkin bagimu ini hanya sebagai picisan, tapi tidak bagiku!! Karena sampai saat ini perasaan itu masih menempel kuat dalam sanubariku.Tapi sayangnya balasan yang kuterima darimu adalah balasan surat yang tak punya ruh, sangat datar!!”, mas Eko menekan di kalimat akhir.

Aku hanya bisa diam dan diam, dan tak terasa sudah 3 jam kami duduk bersama, dan terasa begitu banyak hal bisa aku dapatkan selama 3 jam kebersamaan kita ini. Paling tidak ada satu rasa haru bahwa dari banyak lelaki yang menaruh hati padaku, mas Ekolah sebenarnya yang pertama mencintaiku.

”Mas....udah yuk...mas harus pulang kan? ”, aku mencoba mengakhiri pembicaraan kami, karena aku tak ingin terlalu hanyut dengan perasaanku.

”Oke....oke......tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu yang aku pendam selama 25 tahun?, mas Eko menatapku dengan tajam.

”Listia....aku menyayangi dan mencintaimu, selamanya....” tanpa menunggu persetujuanku, mas Eko menyatakan perasaannya dengan mantap.

Aku hanya menunduk.....dan aku tak ingin menjawabnya, karena bagiku apapun jawaban yang aku berikan, takkan merubah semuanya. Karena kami sekarang telah memiliki keluarga yang sangat membahagiakan kami.Hanya batinku menjawab:” Ya mas....aku juga mencintaimu...”

Dan akhirnya kami meninggalkan resto babaqaran dengan membawa perasaan masing-masing, perasaan cinta yang terpendam saat kami sama-sama di pesantren, dimana perasaan itu diungkap setelah 25 tahun berselang. Ya....ini sebagai pengakuan yang tertunda tapi sangat melegakan. Kami meninggalkan diiringi lagu Engkau Masih Kekasihku dari Naff yang lagi-lagi seakan-akan mewakili perasan kami masing-masing

Jauh di lubuk hatiku

Masih terukir namamu

Jauh di dasar jiwaku

Engkau masih kekasihku

Tak bisa kutahan laju angin

Untuk semua kenangan yang berlalu

Hembuskan sepi,

Merobek hati

Meski raga ini tak lagi milikmu

Namun di dalam hatiku sungguh

Engkau hidup entah sampai kapan

Kutahankan rasa cinta ini

Dan kuberharap semua ini

Bukanlah kekeliruan seperti yang kukira

Seumur hidupku

Akan menjadi doa untukmu

Andai saja waktu masih bisa terulang kembali

Akan kuserahkan hidupku di sisimu

Namun kutau itu takkan mungkin terjadi

Rasa ini menyiksaku

Sungguh-sungguh menyiksaku

---------------------------------------------

Seminggu berselang dengan pertemuan dengan mas Eko, aku mendapat sms dari teman mas Eko::

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,telah meninggal dunia sahabat kami, kakak kami, dan adik kami Eko Prihandoko pada hari Jumat disebabkan karena kecelakaan. Semoga arwah almarhum diterima disis Allah SWT dan keluarga yang ditinggal diberi ketabahan. Amien....Kupenjamkan mataku dan berucap amien..... Ternyata 3 jam telah menghantarkan cinta kami untuk selamanya. Ya...akhirnya aku menyebut pertemuan kami itu sebagai pertemuan 3 jam untuk selamanya.


(Yk,beberapa tahun berselang)


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Pengalaman pribadi ya say??????kira2 sopo ki sing tresno tenanan karo sliramu..
Duuuhhh....sampe jarem neng ati....iri aQ...he4567